Selasa, 14 Februari 2012

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI


PENGARUH FAKTOR BIOTIK EKOSISTEM
EKOSISTEM DARAT
1.      Dasar Teori
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah:
-          Komponen hidup (biotik)
-          Komponen tak hidup (abiotik)
Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Satuan makhluk hidup dalam ekosistem dapat berupa individu, populasi, atau komunitas. Individu adalah makhluk tunggal. Contohnya: seekor kelinci,seekor serigala, atau individu yang lainnya. Sejumlah individu sejenis (satu species) pada tempat tertentu akan membentuk Populasi. Contoh : dipadang rumput hidup sekelompok kelinci dan sekelompok srigala. Jumlah anggota populasi dapat mengalami perubahan karena kelahiran, kematian, dan migrasi ( emigrasi dan imigrasi). Sedangkan komunitas yaitu seluruh populasi makhluk hidup yang hidup di suatu daerah tertentu dan diantara satu sama lain saling berinteraksi. Contoh: di suatu padang rumput terjadi saling interaksi antar populasi rumput, populasi kelinci dan populasi serigala. Setiap individu, populasi dan komunitas menempati tempat hidup tertentu yang disebut habitat.  Komunitas dengan seluruh faktor abiotiknya membentuk suatu ekosistem. Suatu komunitas di suatu daerah yang mencakup daerah luas disebut bioma. Contoh: bioma padang rumput, bioma gurun, dan bioma hutan tropis.  Semua bagian bumi dan atmosfer yang dapat dihuni makhluk hidup disebut biosfer. Berdasarkan proses terjadinya, ekosistem dibedakan atas dua macam :


Ekosistem Alami, yaitu ekosistem yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Contoh : padang rumput, gurun,laut
Ekosistem Buatan, yaitu ekosistem yang terjadi karena buatan manusia.
Contoh : kolam, sawah, waduk, kebun
Ekosistem tidak akan tetap selamanya, tetapi selalu mengalami perubahan. Antara faktor biotik dan abiotik selalu mengadakan interaksi, hal inilah yang merupakan salah satu penyebab perubahan. Perubahan suatu ekosistem dapat disebabkan oleh proses alamiah atau karena campur tangan manusia.
Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.
1.      Ekosistem Darat : Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
2.      Bioma gurun :Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
3.      Bioma padang rumput : Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan.

4.      Bioma Hutan Basah : Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik. Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.  

5.      Bioma hutan gugur : Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang, Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

6.      Bioma taiga : Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

7.      Bioma tundra : Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin. Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

8.      Ekosistem Air Tawar : Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.


II. Tujuan :
1.    Mengatahui jenis organisme (tumbuhan dan hewan) pada ekosistem darat.
2.    Mengukur karakteristik struktur komunitas dalam suatu ekosistem secara kualitatif dan kuantitatif (kepadaan/kerapatan, frekuensi, dominasi) berdasarkan metode pengukuran tertentu.
III. Alat dan bahan :
1.         Kuadrat atau tali rapia
2.         Meteran
3.         Pasak (bambu/kayu)
4.         Alat counter (alat penghitungjumlah)
5.         Lup
IV. Cara Kerja (metode kuadrat)  :
1.        Pilihlah suatu ekosistem di lingkungan kampus, misalnya kebun botani, kebun taman, padang rumput (terbuka dan tertutup/rimbun)
2.        Setiap kelompok membuat plot engamatan dengan metode kuadrat. Catat : buat kuadrat ukuran 1 m dengan tali rapia pada habitat ekosistem yang telah dipilih masing – masing kelompok.
3.        Lakukan pengamatan faktor biotik pada kuadrat tersebut.
4.        Catatlah semua organisme (hewan dan tumbuhan) yang ditemukan pada kuadrat tersebut.
5.        Ulangi kegiatan tersebutno. 2 s.d 4 minimal 2 kali untuk mendapatkan data yang signifikan dengan cara memindahkan kuadrat kelokasi lain pada ekosistem tersebut.
6.      Catat pula faktor abiotik ekosistem tempat pengamatan tersebut (suhu, kelembaban, angin, cahaya).

V. Hasil pengamatan
Tabel hasil pengamatan biotik ekosistem kuadran pertama 1 X 1 m
No
Nama Jenis/ Spesies Organisme
Jumlah Individu
Kelompok
Frekuensi
Kepadatan/ Kerapatan
1.
Hewan
A1 belalang kecil
8 ekor




Konsumen 1

0,8
25 %
A2 Kutu rumput
2 ekor
0,2
6,25 %
A3 Kumbang hitam
2 ekor
0,2
6, 25%
A4 Kepik
2 ekor
0,2
6,25 %
A5 Semut merah
5 ekor
0,5
15,6 %
A6 Laba laba
2 ekor
0,2
6,25 %
A7 belalang besar
1 ekor
0,1
3,1%
A8 Nyamuk
2 ekor
0,2
6,25%
A9 Semut Hitam
7 ekor
0,7
21,8%
A10 Katak Pohon
1 ekor
Konsumen 2
0,1
3,1 %
Jumlah semua individu
32 ekor


99,85%
2.

 Rumput
90 tanaman


Produsen
18
90 %
 Rumput Merambat
4 tanaman
0,8
4%
 Bayam bayaman
2 tanaman
0,4
2%
 Lombok lombokan
2 tanaman
0,4
2%
 Cemara
2 tanaman
0,4
2%
Jumlah spesies individu
100 tanaman


100%




Tabel hasil pengamatan biotik ekosistem kuadran kedua 1 X 1 m
No
Nama jenis/spesies organisme
Jumlah individu
kelompok
frekuensi
Kepadatan/ kerapatan
1.
Hewan
B1 belalang kecil
10 ekor




Konsumen 1

1,25
27,8 %
B2 Kutu rumput
10 ekor
1,25
27,8 %
B3 jangkrik
2 ekor
0,25
5,5%
B4 Kepik
2 ekor
0,25
5,5 %
B5 Semut merah
2 ekor
0,25
5,5 %
B6 Lalat
1 ekor
0,125
2,8 %
B7 belalang besar
2 ekor
0,25
5,5 %
B8 semut hitam
7 ekor
0,875
19,4 %
Jumlah seluruh individu
36 ekor


99,8 %

2.
Tumbuhan
 Rumput
69 tanaman 


Produsen
17,25
69  %
 Rumput Teki
11 tanaman
2,75
11 %
 Meniran
5 tanaman
1,25
5 %
 rumput kering
15 tanaman
3,75
15 %
Jumlah seluruh individu
100 tanaman

100 %

Frekuensi =
Kerapatan =
Bahan diskusi + pembahasan
1.      Buat grafik batang dari masing-masing kelompok organisme tersebut !

Grafik batang biotik ekosistem kuadran pertama 1 x 1 M

Grafik batang ekosistem kuadran kedua 1 x 1 M
2.      Gambar bagan rantai dan jaring jaring makanan, tingkat tropik faktor biotik ekosistem tersebut dan tunjukan arah aliran energinya !
 










3.      Apa yang dimaksud dengan istilah kepadatan/kerapatan, frekuensi, kelimpahan/ambudansi, dan dominansi species dalam suatu komunitas?
-          Kepadatan atau kerapatan yaitu jumlah individu dalam suatu populasi dalam satuan ruang dan waktu.
-          Frekuensi yaitu jumlah jenis individu perjumlah individu yang ada
-          Dominasi spesies yaitu jumlah dari beberapa spesies yang lebih melimpah atau mendominasi suatu populasi.

4.      Berdasarkan komunitas diatas speciese mana yang memiliki nilai kepadatan , frekuensi dan dominansi tertinggi begitu pula sebaliknya !
·         Berdasarkan komunitas diatas pada kuadran pertama yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu tumbuhan yaitu rerumputan yang bertindak sebagai produsen begitu pula halnya dengan frekuensi dimana tumbuhan memiliki frekuensi tertinggi.sebaliknya spesies yang memiliki frekuensi atau kerapatan teresndah yaitu belalang dan katak pohon yang bertindak sebagai konsumen tingkat dua
·         Pada kuadran kedua spesies yang memiliki kerapatan dan frekuensi yang tertinggi ditempati oleh tumbuhan yakni rerumputan yang bertindak sebagai produsen. Sebaliknya spesies yang memilikikerapatan dan frekuensi terendah yaitu lalat.

Daftar Pustaka
http://sumbermakalah.blogspot.com/2008/12/ekosistem-darat.html  diakses 16 Nopember 2011 pukul 20.00 .

 PENGUKURAN FAKTOR ABIOTIK (FISIKA DAN KIMIA) EKOSISTEM PERAIRAN
TUJUAN :
1.      Melakukan pengukuran faktor fisik dan kimia suatu ekosistem perairan
2.      Menjelaskan arti penting faktor fisik dan kimia dalam suatu ekosistem perairan

a.    Faktor fisik ekosistem perairan
1.      Dasar teori
Ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak mencolok, penetrasi cahaya kurang, dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Ekosistem perairn air tawar dibedakan menjadi ekosistem lentik atau perairan menggenang dan ekosistem lotik atau perairan mengalir. Kualitas suatu perairan dapat ditentukan oleh sifat kimia dan fisika. Interaksi antara sifat kimia dan fisika di perairan sungai dan kolam dapat menentukan kemampuan perairn tersebut untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya.
Ekosistem perairan merupakan ekosistem yang selalu mengalami perubahan kualitas dan kuantitas akibat pengaruh variasi abiotik tersebut. Oleh karena itu, organisme perairan harus dapat beradaptasi dalam mencari nutrisi dan menjalankan kelangsungan hidup dengan menggunakan gas-gas yang terlarut pada perairan tersebut. Pengaruh variasi abiotik ini juga sebagai penunjang lingkungan secara keseluruhan yang memungkinkan adanya perubahan produktivitas biologis. Dengan adanya praktikum ini, kita dapat menentukan kualitas fisika dan kimia suatu perairan sehingga dapat menambah wawasan tentang variasi faktor abiotik yang sesuai dengan kelangsungan kehidupan organisme perairan sehingga kita dapat mengaplikasikan hal tersebut di bidang perikanan dan konsevasi alam.

syarat kategori air bersih
ada beberapa syarat untuk pemenuhan air bersih yang layak untuk dikonsumsi yang meliputi dari beberapa aspek yaitu:
Aspek psysics meliputi : air tidak boleh berwarna, air tidak boleh berbau, suhu air hendaknya dibawah sela udara (sejuk -/+ 25 derajat celcius), tampilan air harus jernih
Aspek kimia meliputi : air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampui batas yang telah ditentukan seperti kandungan besi yang terdapat dalam tanah dan kandungan NaCL(garam) yang berlebih.
Aspek bakteriologik : Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit(patogen) sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri-bakteri golongan Coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 coli/100 ml air.bakteri golongan Coli ini berasal dari usus besar(faeces) dan tanah. bakteri patogen yang mungkin ada dalam air antara lain bakteri typshum, vibrio colerae, bakteri dysentriae, entamoeba hystoltica, bakteri enteritis(penyakit perut) air yang menandung Coli dianggap telah terkonaminasi dengan kotoran manusia

pemanfaatan sumber air tanah sebaiknya sumur terlatak berjauhan dari septictank. dan pada kedalaman yang cukup. pemanfaatan air pada kedalaman 60-100m(air tanah dalam), memiliki keuntungan dibandingkan dengan air tanah dangkal, misalnya pada musim kemarau air tidak kering, pada musim hujan air tidak keruh, tidak terdapat kandungan bakteri yang berasal dari septic tank, limbah tercemar lainya dari permukaan tanah. pemenuhan kebutuhan akan air bersih merupakan hajat hidup setiap manusia.jaminan akan penyediaan kebututuhan air yang bersih merupakan kewajiban usaha kami dalam upaya pemanfaatan air tanah dalam untuk memperoleh air yang bersih dan layak

Ciri-Ciri Pencemaran
Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia atau mineral terutama oleh zat-zat atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan. Adapun beberapa indikator bahwa air sungai telah tercemar adalah sebagai berikut:

a. Adanya perubahan suhu air. Air yang panas apabila langsung dibuang ke  lingkungan akan mengganggu kehidupan hewan air dan mikroorganisme lainnya.

b. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai berkisar pH berkisar antara 6,5 – 7,5.

c. Adanya perubahan warna, bau dan rasa air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih, tetapi hal itu tidak berlaku mutlak, seringkali zat-zat beracun justru terdapat pada bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran. Apabila air memiliki rasa berarti telah terjadi penambahan material pada air dan mengubah konsentrasi ion Hidrogen dan pH air.

d. Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut. Bahan buangan yang berbentuk padat, sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam air besama koloidal, sehingga menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan fotosintesis.

e. Adanya mikroorganisme. Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari limbah industri ataupun domestik. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, maka mikroorganisme akan ikut berkembangbiak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembangbiak pula.

f. Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan. Zat radioaktif dari berbagai kegiatan dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik efek langsung maupun efek tertunda.
          II. Alat dan bahan :
1.      Kamera
2.      Botol sampel
3.      Thermometer
4.      Lempeng kaleng permukaan mengkilat
5.      Tambng plastik/rapia
          III. Cara kerja
1.      Pilih beberapa ekosistem perairan yang akan diukur faktor fisiknya misal, kolam, sungai, danau, laut
2.      Lakukan pengukuran faktor fisik masing – masing ekosistem, yang meliputi : warna, rasa, bau, temperatur, dan intensitas cahaya.
3.      Susunlah langkah-langkah pengukuran setiap faktor fisik, kemudian konsultasikan dengan dosen pembimbing. Catatan : gunakan literatur kegiatan instrumen atau ikuti petunjuk dosen pembimbing.
4.      Catat semua hasil pengukuran faktor fisik pada semua ekosistem dalam sebuah tabel.
IV. Hasli Pengamatan
Tabel Hasil pengamatan

No

Nama Ekosistem
Faktor fisik
Warna
Rasa
Bau
Suhu
Cahaya
1.      
TAMBAK
Kedalaman 1 (8 Cm)
Coklat kehijaun
-

31’
Cahaya buruk
Kedalaman 2 (16 Cm)
Coklat kehijauan
-

31’
Cahaya sedang
Kedalaman 3  (24 Cm)
Coklat kehijauan
-

31’
Cahaya baik
2.   
SUNGAI
Kedalaman 1 (Cm)





Kedalaman 2 (Cm)





Kedalaman 3 (Cm)






b.   Pengukuran pH
Alat Dan Bahan
1.    Kertas lakmus merah dan biru
2.    Kertas indikator universal
3.    Botol sampel
4.    Gelas kimia
5.    Tabung Reaksi
6.    Pipet Tetes
7.    Gelas Ukur
8.    Sampel  : Air sungai, air tambak/air kolam
    Cara Kerja
1.    Mengumpulkan air kolam / tambak / sungai kedalam botol sampel dalam berbagai kedalaman.
2.    Pipet 1-2 Ml masing masing sampel kedalam tabung reaksi. Lakukan pengukuran pH air sampel dengan alat pengukuran pH (lakmus, indicator universal, dan pH Meter). Sebagai berikut :
a.       Kertas lakmus : potong lakmus merah dan biru secukupnya, celupkan kedalam air sampel biarkan beberapa detik sampai terjadi perubahan warna pada lakmus. Catat perubahan warna yang terjadi pada lakmus merah dan biru.
b.      Indikator universal : ambil satu batang kertas indikator unversal dari kotaknya celupkan kedalam air sampel, biarkan beberapa detik sampai terjadi perubahan warna pada kertas indikator universal lalu kibas – kibaskan diudara. Catat nilai pH air dengan cara mengkonversikan warna pada kertas indikator universal dengan skala nilai pH yang tersedia yang tersedia pada kotak kertas indikator universal.

Tabel Hasil Pengamatan Pengukuran pH
No
Nama Ekosistem
Kertas lakmus
Keterangan
Indikator Universal
pH
Merah
Biru
1.
Tambak

Kedalaman 1 (8 cm)
Ungu +
Biru
Basa
8
Kedalaman 2 (16 cm)
Ungu
Biru
Basa
7
Kedalaman 3 (24 cm)
Ungu ++
Biru
Basa
8
2.
Air Sungai


Kedalaman 1
-
-
-
-
Kedalaman 2
-
-
-
-
Kedalaman 3
-
--
-
-

Adapun hasil pengamatan terhadap habitat ditemukan beberapa organisme yang hidup didalam ekosistem itu antara lain:
1. Tambak
Kedalaman 1 : ditemukan lumut, amoeba, paramecium
Kedalaman 2 : ditemukan paramesium, amoeba
Kedalaman 3 : ditemukan paramecium, amoeba

DAFTAR PUSTAKA
heddy, suwasono. Sutiman, soekartomo, sardjono.1986. pengantar ekologi. Malang : Rajawali press.

PENGARUH FAKTOR ABIOTIK (IKLIM) EKOSISTEM
I.            TUJUAN :
1.      Mahasiswa dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan praktikum dileb/dilingkungan
2.      Mahasiswa dapat mencatat hasil pengukuran dengan benar pada setiap kegiatan praktikum dileb/dilingkungan.
3.      Mahasiswa dapat menjelaskan arti penting faktor abiotik (iklim) suatu ekosistem.
4.      Mahasiswa dapat menjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi faktor abbiotik (iklim) dalam suatu ekosistem.

II.      DASAR TEORI :
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu
1.      Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2.      Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3.      Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4.      Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5.      Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6.      Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu. Iklim juga merupakan adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Studi tentang iklim dipelajari dalam meteorologi. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang tinggi. Ilmu yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi. (Naufal, 1991)
III.      ALAT DAN BAHAN :
1.      Hygrometer
2.      Tabung reaksi
3.      Benang
4.      Kertas saring / whatman
5.      Gunting

IV.      CARA KERJA :
1.      Menenukan lokasi ekosistem yang akan diukur faktor abiotik (iklim).
·         Kelompok 1 : ekosistem terbuka
·         Kelompok 2 : ruang kelas
·         Kelompok 3 : ekosistem terlindung/tertutup
·         Kelompok 4 : rumah kaca
2.      Gunakan alat ukur yang sesuai dengan faktor lingkungan (variabel) yang diukur misalnya suhu, kelembaban, dan penguapan
3.      Kelompok kami mendapat ekosistem ruang kelas.
4.      Pengukuran terhadap lingkungan dilakukan pagi dan sore hari.
5.      Mencatat hasil pengamatan!








V.         HASIL PENGAMATAN
Tabel hasil pengamatan terhadap suhu dan kelembaban dilakukan dipagi hari
Jenis ekosistem
Tiap 5 menit ke
Hygrometer
kelembaban
Kering
Basah
ruang laboratorium FKIP Biologi UMSurabaya
1 (pertama)
290C/860F
240C/750F
-
2 (Kedua)
290C/860F
240C/750F
-
3 (ketiga)
290C/860F
240C/750F
-

Keterangan :
Pengukuran dilakukan pada hari rabu dipagi hari dari tabel terlihat bahwa pengukuran suhu setiap lima menitnya baik itu lima menit pertama lima menit kedua dan lima menit ketiga memiliki suhu dan kelembaban yang sama.

Tabel hasil pengamatan pengukuran penguapan dilakukan dipagi hari
Tabung
Kondisi awal
Setelah perlakuan  dengan menggunakan alat
Rata – rata Besar penguapan
5 menit pertama
5 menit kedua
5 menit ketiga
1
100 ml
9,2 ml
-
-

1,61
2
100 ml
-
8,7 ml
-
3.
100 ml
-
-
6,3 ml

Keterangan :
Perhitungan dimulai dengan kalibrasi alat untuk mengukur penguapan dengan menggunakan alat buatan sendiri yaitu :
·         Menyediakan tabung reaksi 3 buah
·         Mengisi ketiga tabung tersebut dengan air sebanyak 100 ml
·         Membuat penutup dengan menggunakan kertas saring yang dibuat dengan ukuran    2 x 2 cm
·         Kemudian letakan diatas mulut dari tabung reaksi untuk ketiga tabung dilakukan secara bersamaan.
·         Kemudian membalik posisi tabung reaksi dengan cara menggantungkkannya dengan alat ataupun dengan tali, dan ketiga nya harus dilakukan secara bersamaan.
·         Melakukan pencatan hasil yaitu dengan mengukur sisa volume air yang tersisa didalam tabung reaksi 5 menit pertama ukur sisa volume tabung reaksi pertama, 5 menit kedua hitung sisa volume air pada tabung 2 dan 5 menit ketiga hitung sisa volume air yang tersisa ditabung reaksi 3.
·         Cara menghitung sisa volume air yaitu dengan menggunakan gelas ukur.
Berikut perhitungan besarnya penguapan :
Tabung 1 :  
KESIMPULAN
Dalam praktikum ini kami melakukan percobaan dilaboratorium biologi UMSurabaya dengan mengukur suhu, kelembaban, dan besarnya rata – rata penguapan. Lingkungan biotik dilaboratorium relatif stabil dengan suhu kering 290C/860F dan suhu basah 240C/750F dengan rata – rata besar penguapan adalah 1,61 ml/menit.


INSTRUMENTASI
TUJUAN :
1.      Mahasiswa dapat menyebutkan macam – macam alat lapangan ekologi
2.      Mahasiswa dapat menyebutkan fungsi alat lapangan ekologi
3.      mahasiswa dapat menjelaskan prinsip kerja alat lapangan ekologi
4.      mahasiswa dapat mendemonstrasikan cara penggunaan masing-masing alat ukur.
ALAT DAN BAHAN :
1.      Thermometer ruang
2.      Hygrometer
3.      Evaporimeter
CARA KERJA :
1.      Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang alat – alat lapangan ekologi.
2.      Amati dan pelajari setiap alat yang ditemukan tentang hal hal berikut ini :
·         Nama alat
·         Fungsi alat
·         Prinsip kerja
·         Cara menggunakan
·         Gambar bagian-bagian penyusun alat.
3.      Membuat rangkuman dari hasil pengamatan kelompok bentuk tabel disertai gambar.
4.      Mepresentasikan hasil

HASIL PENGAMATAN
Tabel hasil pengamatan

No

Nama Alat
Keterangan
Fungsi
Prinsip Kerja
Cara Menggunakan
1
Thermometer
Mengukur suhu
Suhu terlihat dengan melihat pergerakan air rakasa yang menunjukan skala pada suhu tertentu
Pegang bagian ujung.Nol skala
Jika belum maka dikibas
kibaskan diudara atau diarahkan
dengan menggunakan magnet.Jika telah nol siap digunakan dengan meletakknya dibagian tubuh.

2
hygrometer
Hygrometer digunakan untuk mengukur kelembaban udara relative (RH)

Thermometer pertama dipergunakan untuk mengukur suhu udara biasa dan yang kedua untuk mengukur suhu udara jenuh/lembab (bagian bawah thermometer diliputi kain/kapas yang basah).
Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius.
saat pengukuran dengan hygrometer selama pembacaan haruslah diberi aliran udara yang berhembus kearah alat tersebut, ini dapat dilakukan dengan mengipasi alat tersebut dengan secarik kertas atau kipas.

3
Evaporimeter
Mengukur penguapan
Ada beberapa jenis:
1.    Piche Evaporimeter prinsip kerja nya melihat selisih air.
Air yang terdapat dalam pinche evaporimeter akan menguap (yang terdapat pada tabuing yang berisi air). Kertas saring dan air dihubungkan dengan pipa kapiler yang menjaga supaya kertas saring selalu kering dan jenuh. Dari pembacaan berturut-turut volume air yang tinggal ditabung pengukur dapat diketahui banyaknya air yang hilang karena penguapan setiap saat

2.    Panci Evaporasi kelas A prinsip kerjanya Perbedaan ketinggian antara awal pengukuran dan akhir pengukuran akibat penguapan air.

Setiap pemutar batang pengukur disetel sehingga hook menempel pada awal air, tunggu beberapa menit dan disetel kembali sehingga hook menempel pada air dan diukur antar selisih awal dan akhir akibat evaporasi tersebut.



Tabel gambar instrumen
No
Nama Alat
Gambar
Keterangan
1
Thermometer

 

b
 
a
 



a: suhu
b:air raksa

2
Hygrometer
d
 
c
 


e
 
b
 
a
 
                            


a.       Skala celsius
b.      Skala fahrenheit
c.       Tabung
d.      L
e.        
3
Evaporimeter
c


 
b


 
Piche evaporimeter

a


 



a. Tabung kaca tempat air yang berskala dalam satuan mm.
b. Kawat penjepit tempat meletakkan kertas berpori
c. Kaki
·    Satuan Alat : m
·     Satuan Pengukuran : m
·     Ketelitian Alat : 0,1 ml
 
Panci evaporimeter



a.    Panci evaporasi (d:120,7cm, t:25cm, tbl: 0,8cm)
b.     Rangka kayu / besi
c.     Tabung peredam riak atau gelombang (d : 10cm)
d.    Hook (batang kall) dan skala ukur (nonius)
e.     Sekrup pemutar batang pengukur

• Satuan Alat : mm
• Satuan Pengukuran
: mm
• Ketelitian Alat : 0,02 mm


Daftar pustaka

PRAKTIKUM KE-5
ADAPTASI DAN SELEKSI ALAM
I.            DASAR TEORI
ADAPTASI
Adaptasi yaitu proses penyesuaia diri makhluk hidup dengan lingkungannya. Adaptasi terbagi menjadi 2 yaitu adaptasi morfologi dan adaptasi fisiologi.
Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi yaitu penyesuaian bentuk tubuh, struktur tubuh, atau alat – alat tubuh. Mudah mengamati morfologi adaptasi sebab tampak dari luar. Contoh morfoligi adaptasi adalah sebagai berikut :
1.      Adaptasi Morfologi pada hewan
Bentuk paruh burung bermacam – macam sesuai dengan disesuaikan dengan jenis makanannya. Misalnya burung kolibri paruhnya sesuai  untuk menghisap madu dari bunga, burung pelikan paruhnya sesuia untuk menangkap ikan, burung elang paruhnya sesuai untuk mengoyak daging mangsanya, burung pelatuk sesuai untuk memahat batang pohon dan menangkap serangga didalamnya, ada juga paruh yang disesuakan untuk jenis makanan biji-bijian. Adaptasi morfologi pada burung  juga dilihat pada kakinya.
2.      Adaptasi morfologi pada tumbuhan
Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan dibedakan menjadi sebagai berikut:
a.       Xerofit, yaitu timbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering, contoh kaktus. Cara adaptasi xerofit antara lain mempunyai daun  berukuran kecil atau bahkan tidak berdaun (mengalami modifikasi menjadi duri), batang dilapisi lapisan lilin yang tebal, dan berakar panjang sehingga berjangkauan luas.
b.      Hidrodit, yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri denga  lingkungan berair, contohnya teratai. Cara adaptasi hidrofit antara lain berdan lebar dan tipis, serta mempunyai banyak stomata
c.       Higrofit, yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kembab, contohnya tumbuhan paku dan lumut
Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian fungsi alat – alat tubuh orgnisme terhadap lingkungannya. Pengamatan terhadap adaptasi fisiologi tidak mudah karena menyangkut  fungsi alat – alat tubuh yang umumnya terletak di bagian dalam tubuh. Contohnya anntara lain :
1.      Adaptasi fisiologi oleh manusia
a.       Jumlah sel darah merah orang yang tinggal di pegunungan lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tinggal di pantai/dataran rendah.
b.      Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar dari pada ukuran jantung orang kebanyakan
c.       Paa saat udara dingin, orang cendrung lebih banyak mengeluarkan urine (air seni).
2.      Adaptasi fisiologi pada hewan
Berdasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivora (pemakan daging), Herbivor (pemakan tumbuhan), omnivor (pemakan hewan dan tumbuhan). Penyesuaian hewan – hewan tersebut berdasarkan jenis makannya antara lain terdapat pada ukuran (panjang) usus dan enzim pencernaan yang berbeda. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai dinding sel yang keras, rata – rata usus herbivor memiliki usus yang lebih panjang.
3.      Adaptasi fisiologi pada tumbuhan
a.       Tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh serangga mempunyai bau yang berbau khas.
b.      Tumbuhan tertentu menghasilka zat khusus yang dapat menghambat pertumbuhan untuk melindungi diri. Misalnya semak azalea di jepang menghasilkan bahan kimia beracun sehingga rusa tidak memakan daunnya.
Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian organisme terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Mudah diamati karena sangat tampak. Contohnya antara lain:
1.      Adaptasi tingkah laku pada hewan
a.       Bunglon melakukan mimikri, yaitu mengubah – ubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hal itu dilakukan untuk melindungi diri dari serangan pemangsa.
b.      Cumi – cumi mengeluarkan tinta/cairan hitam ketika ada bahaya yang mengancam. Cumi – cumi juga memiliki kemampuan untuk mengubah warna tubuhnya sesuia dengan lingkungan tempat dia hinggap.
c.       Secara berkala paus sering muncul dipermukaan air untuk menghieup udara dan menyemprotkan air. Paus melakukan itu kerana alat pernapasannya berupa paru-paru tidak dapat memanfaatkan oksigen yang terlarut di dalam air
d.      Dalam keadaan tertentu cicak memutuskan ekornya.
SELEKSI ALAM
Seleksi alam adalah  proses alam. Misalnya perubahan lingkungan, persaingan antar organisme, dan proses makan dimakan. Yang dapat memilih organisme yang dapat bertahan diala atau tidak dapat bertahan di alam. Contoh kejadiannya :
Dikepulauan galapogas kaktus yang hidup dipulau yang tidak dihuni kura-kura tumbuh rendah dengan duri-duri lunak. Adapun kaktus yang hidup pada daerah yang dihuni kura kura seperti pohon dengan batang tebal daan tinggi serta dilindungi oleh durin yang keras dan kaku. Organisme yang berhasil lolos akan selamat sebaliknya yang tidak mampu akan punah. Contoh kejidian seleksi dapat dilihat dari kepunahan dinosaurus. Beberapa teori menjelaskan punahnya dinosaurus kareka sebuah meteor menabrak bumi dan menimbulkan ledakan hebat yang mengakibatkan banyak tumbuhan yang mati karena tidak dapat bergotosintesis. Akhirnya herbivor juga mati karena tidak ada makanan, begitu pula dengan karnivor juga mati karena herbibor mato akhirnya dimosaurus menjadi punah.
HUBUNGAN ANTARA ADAPTASI DENGAN SELEKSI ALAM
Dapat ditarik kesimpulan dari dasar teori diatas bawhwasannya banyak penyebaba yang mengharuskan individu beradaptasi dengan lingkungannya. Jika tidak mampu beradaptasi kemungkinan terbesarnya adalah akan terseleksi oleh alam dan jika hal tersebut berlangdung dalam jang waktu yang lama dapat menyebabkan kepunahan.

II. TUJUAN
1.      Menyebutkan macam adaptasi makhluk hidup
2.      Mengevaluasi faktor penyebab adaptasi
3.      Menjelaskan seleksi alam pada makhluk hidup pada suatu ekosistem
4.      Menjelaskan hubungan adaptasi dan seleksi alam
III. ALAT DAN BAHAN
1.         Tali dan pasak
2.         Kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai (masing-masing 100 biji)
3.         Toples plastik 4 buah
4.         Stop watch
IV. PROSEDUR KERJA
1.      Pilihlah ekosistem padang rumput yang ada pada lingkungan kampus
2.      Buah plot pengamatan dengan menggunakan metode kuadrat (misal ukuran 1 m2). Usahakan daerah yang sudah diplot tidak diinjak dan dibiarkan seperti aslinya.
3.      Taburkan ketiga macam biji kacang sebanyak 300 biji kearea plot secara merata.
4.      Ambil kembali biji kacang yang sudah tersebar diarea plot oleh anggota kelompok selama 30 detik.
5.      Pisahkan masing – masing biji kacang yang berhasil dikumpulkan kembali dan hitunglah jumlahnya.
6.      Catat pengamtan dalam bentuk tabel
V. BAHAN DISKUSI
1.      Dari  tabel hasil pengamatan masing masing kelompok, kacang mana yang paling banyak berhasil dikumpulkan dan yang mana sebaliknya? Mengapa?
2.      Apa itu adaptasi? Bagaimana hubungannya dengan penelitian diatas?
3.      Apa seleksi alam? Bagaimana hubungannya dengan adaptasi?
VI. HASIL PENGAMATAN
Tempat : padang rumput, Kacang yang disebarkan adalah kacang hijau, kacang merah, dan kacang kedelai, masing – masing 100 biji
TABEL HASIL PENGAMATAN
No
Jenis kacang
Jumlah biji sebelum perlakuan
Jumlah biji setelah perlakuan
30 detik ke

Jumlah
1
2
3
4
5
6
1.
Kacang hijau
100 biji
5
7
11
2
7
1
33
2.
Kacan merah
100 biji
21
22
7
8
1
0
59
3.
Kacang kedelai
100 biji
36
16
14
4
4
2
76
Jumlah
300 biji

158


Keterangan
Sebelum perlakuan jumlah biji kacang yang tersebar berjumlah 300 biji, sesaat setelah perlakuan biji telah dikumpulkan kembali dan menyisakan jumlah 158 biji. Hal ini membuktikan bahwa sebanyak 142 kacang telah tertinggal didalam ekosistem.
Pembahasan diskusi
1.      Pada praktikum kacang yang paling banyak dikumpulkan kembali setelah perlakuan yaitu kacang kedelai. Sedangkan yang paling sedikit dapat dikumpulkan yaitu kacang hijau. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan diantaranya :
·      Kacang kedelai berwarna kuning dan berbentuk lebih besar dari kacang lainnya sehingga membuatnya mudah ditemukan ditengah tengah  padang rumput yang berwarna hijau, karena warnanya yang mencolok ditengah padang rumput yang berwarna hijau dan bentuknya yang besar dibandingkan dengan yang lainnya. Sehingga dalam praktikum ini kacang kedelai yang paling mudah ditemukan sehingga berjumlah paling  banyak.
·      Sedangkan untuk kacang hijau paling sedikit yang ditemukan kembali setelah perlakuan disebabkan karena warna nya yang hijau sama dengan padang rumput yang didominasi oleh warna hujau pula hal ini yang menyebabkan kacang hijau sulit ditmukan kembali. Dan bentuk dari kacang ini yang kecil juga membuatnya kesulitan untuk ditemukan saat perlakuan.
2.      Adaptasi adalah proses penyesuain diri individu dengan lingkungannya. Hubungannya dengan penelitian diatas yaitu untuk kacang hijau ia dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan hidupnya dalam hal ini  yaitu padang rumput yang berwarna hijau. Warna nya yang sama dengan lingkungannya yaitu warna hijau membuatnya aman dari para pemangsa dalam hal ini yaitu manusia.  Berbeda denga kacang kedelai mungkin belum dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga ia muda dijumpai dan dimangsa oleh para predator.
3.      Seleksi alam yaitu proses alam, Misalnya perubahan lingkungan, persaingan antar organisme, dan proses makan dimakan. Yang dapat memilih organisme yang dapat bertahan diala atau tidak dapat bertahan di alam. hubungannya dengan adaptasi yaitu individu yang dapat beradaptasi baik dengan lingkungannya akan memerkecil resiko dimangsa oleh predator.  Hubungannya dengan adapatasi antara lain makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungannya akan memperkecil tingkat seleksi alam. Karena alam akan melakukan seleksi terhadap makhluk hidup yang dapat bertahan dalam kondisi alam yang bagaimanapun bentuknya. Dan jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kepunahan suatu makhluk hidup.
DAFTAR PUSTAKA

PRAKTIKUM KE – 6
ANALISIS VEGETASI
I.                   DASAR TEORI
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.Dibawah ini adalah beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu :
a.       Indeks Nilai Penting (INP)
Indeks Nilai Penting (INP) ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR), (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
picture9
II.                TUJUAN
1.      Mengetahui struktur komunitas tumbuhan pada suatu lokasi dengan metode transek/kuadrat
2.      Mengetahui dominasi spesies tumbuhan pada suatu lokasi

III.             ALAT DAN BAHAN
1.      Tali rafia
2.      Pasak
3.      Meteran
4.      Higrometer
5.      Termometer

IV.             CARA KERJA
1.      Tentukan lokasi yang akan diamati
2.      Buat kuadrat dengan ukuran 1 x 1 m2 sebanyak 5 kuadrat.
3.      Catat jenis spesies apa saja yang terdapat didalamnya
4.      Hitunglah jumlah spesies – spesies itu untuk masing masing kuadrat yang sudah dibuat.
5.      Hitunlah kerapatan, dan frekuensi spesies untuk masing-masing kuadrat.


Pertanyaan diskusi :
1.      Spesies tumbuhan apakah yang paling dominan pada lokasi tersebut? Adakah pengaruhnya terhadap spesies lain? Jelaskan alasannya.
2.      Adakah perubahan struktur komunitas dari pangkal sampai keujung tali? Jelaskan faktor apa yang mempengaruhinya, sehingga anda dapat menggambarkan karakteristik lingkungan dan komponen biotik pada loksi tersebut!

V.                HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Plot 1 Ukuran 1 X 1 Didepan Ruang Pengajaran FKIP UMSurabaya
KETERANGAN :
Jenis individu yang terdapat pada Plot 1 antara lain
-          A : Rumput jepang
-          B : Rumput biasa
-          C : Rumput teki
Pada area 1 terdapat populasi A,B,C
Pada area 2 terdapat populasi B,C
Pada area 3 terdapat populasi A,B,C
Pada area 4 terdapat populasi B,C

 
Text Box: 5
 












Plot Ke 2 Ukuran 1 X 1 Didepan Pohon Sawo Kecik Umsurabaya
KETERANGAN :
Jenis individu yang terdapat pada Plot 1 antara lain
-          A : Rumput jepang
-          B : Rumput biasa
-          C : Rumput teki
Pada area 1 terdapat populasi A,B,C
Pada area 2 terdapat populasi A,B,C
Pada area 3 terdapat populasi A,B,C
Pada area 4 terdapat populasi B,C

 
 









Plot 3 Ukuran 1 X 1 Didepan Fik Umsurabaya
KETERANGAN :
Jenis individu yang terdapat pada Plot 1 antara lain
-          A : Rumput jepang
-          B : Rumput biasa
-          C : Rumput teki
Pada area 1 terdapat populasi A,B,C
Pada area 2 terdapat populasi A,B,C
Pada area 3 terdapat populasi A,B,C
Pada area 4 terdapat populasi B,C

 
 













TABEL HASIL PENGAMATAN
PLOT
SPESIES
JUMLAH
1
A
200
B
1600
C
100
2
A
140
B
60
C
200
3
A
60
B
210
C
400

Kerapatan absolut  =  
Ka.A =  
Ka.B =  
Ka.C  =  

Kerapatan Relatif  =  
K.r A  =  
K.r A  =  
K.r A  =  

Frekuensi Absolut = 
F.a .A =
F.a .B =
F.a .B =
Frekuensi Relatif = 
F.r .A =
F.r .B =
F.r .C =

KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dengan membuat  Plot  Ukuran 1 X 1 didepan ruang pengajaran FKIP Umsurabaya diperoleh spesies yang dominan adalah spesies rumput biasa pada plot kedua yang dominan adalah rumput teki sedangkan plot ketiga didominasi oleh spesies rumput teki.




















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar